Pengertian Seni Grafis, Sejarah, dan Ragam Seni Grafis !

08.29

Pengertian Seni Grafis, Sejarah, dan Ragam Seni Grafis !

Pengertian Seni Grafis

Seni grafis adalah karya seni rupa dua dimensi yang proses pembuatannya melalui teknik cetak. Isilah grafis berasal dari bahasa Inggris yaitu “graph” atau “graphic” yang berarti membuat tulisan, gambar, atau lukisan dengan cara di toreh atau di gores. Grafis juga dapat diartikan sebagai gambaran yang nyata. Seni grafis termasuk kedalam seni rupa dua dimensi.

Sejarah Seni Grafis

Pada awalnya seni grafis berkembang di China. Di Cina seni grafis digunakan untuk menggandakan tulisan-tulisan keagamaan. Tulisan tersebut diukir pada bidang kayu serta di cetak diatas kertas. Pada tahun 105 China menemukan kertas secara massal tepatnya pada masa pemerintahan Dinasti Yi.
Selain itu, karya seni dengan menggunakan media kayu ditemukan dinegara asoa yang mempunyai kultur tua dan kuat seperti China, Korea dan Jepang. Sedangkan bangsa Romawi menggunakan teknik cetak ini untuk menghias jubah dengan menggunakan cetak stempel.
Akan tetapi teknik cetak ini kurang berkembang sebab bangsa eropa tidak mengenal kertas. Pada abad ke 13, di Eropa mulai berkembang teknik grafis dengan ditemukkannya mesin cetak oleh Gutterberg yang juga mendirikan pabrik kertas pertama di Italia. Sejak ditemukannya mesin cetak oleh Gutterberg beragam teknik seni grafis berkembang di Eropa.
Di Indonesia seni grafis adalah media alternatif bagi seniman yang telah mengerjakan bidang lain seperti melukis ataupun mematung. Seni grafis di Indonesia muncul sekitar tahun 1950-an, tokohnya bernama Suromo dan Abdul Salam di Yogyakarta yang membuat karya dengan teknik cukil kayu (woodcut) dan kebanyakan karya nya adalah poster perjuangan. Tokoh lainnya yaitu Marasutan dari Jakarta dan Mochtar Apin dari Bandung.

Ragam-Ragam Seni Grafis

Berikut merupakan ragam-ragam seni grafis, yaitu :

Cetak Tinggi

Cetak tinggi adalah ragam karya seni grafis yang proses pembuatannya melalui tahapan pembuatan cetakan dari bahan yang dicukil sehingga permukaannya menjadi tinggi dan rendah atau relief.
Alat-alat atau media yang digunakan dalam proses cetaktinggi antara lain adalah kayu lapis triplek, metal, harboard, papan kayu, dan karet atau linoleum. Teknik cetak tinggi yang paling populer atau terkenal adalah seni grafis cukil kayu atau yang disebut woodcut.
Teknik cetak tinggi mulai dikenal pada abad ke-14 M oleh orang Koptia di Mesir. Orang yang berjasa dalam penemuan teknik ini salah satunya adalah Johanes Gutenberg (1400-1468) yang berasal Jerman. Adapun Orang
Eropa menggunakan teknik ini guna membuat hiasan pada kain tenun. Seni grafis cetak tinggi juga digunakan pada media cetak huruf dan buku.
Seniman yang menggunakan teknik cetak tinggi dalam membuat karya seninya antara lain adalah H. Holbein, Albrecht Durer, L. Granach, HB. Grien (Jerman), Kastuhista Hukosai, Ando Hirosige (Jepang), Edi Sunaryo, Kaboel Suadi, Andang Supriadi (Indonesia).

Cetak Saring

Cetak saring (secreen printing) adalah ragam karya seni grafis yang proses pembuatannya melalui tahapan pembuatan cetakan dari bahan secreen atau kain yang dilapisi bahan peka cahaya. Cetak saing juga sering dikenal sebagai sablon.
Alat yang digunakan dalam proses cetak saring adalah cetakan yang terbuat dari bahan kasa atau screen yang memiliki sifat elastis, lentur, dan halus. Selain sablon, cetak saring juga digunakan untuk membuat poster, spanduk, kaos, dan lain sebagainya.
Contoh seniman yang menggunakan teknik cetak saring dalam membuat karya seni adalah Chuck Close, Joseft Albert, Ralston Crawford, Robert Indiana, Julia Opie, Bridge Riley, Edward Ruscha, dan Andy Warhol.

Cetak Dalam

Cetak dalam atau intaglio print adalah ragam seni grafis yang dibuat dengan cetakan dari bahan plat alumunium yang ditoreh dengan alat tajam sehingga membentuk goresan yang dalam.
Contoh seniman yang menggunakan teknik cetak datar dalam membuat karyanya antara lain adalah Pierre Bonnard, M.C Escher, George Bellows, Joan Miro, Honore Daumier, Ellsworth Kelly, Willem de Kooning, Edvard Munch, Pablo Picasso, Emil Nolde, Odilon Redon, dan Stow Wengenroth.

Cetak Foto (Fotografi)

Cetak foto adalah ragam seni grafis yang proses pembuatannya melalui pemrotetan dengan kamera, pencucian film, dan pencetakan gambar foto. Alat-alat yang digunakan dalam teknik ini antara lain adalah kertas dan tinta dengan menggunakan alat kamera digital, komputer, dan printer.

Engraving

Seni grafis jenis ini pertama kali dikembangkan di Jerman pada tahun 1430, dari ukiran halus yang digunakan para pengrajin emas untuk mendekorasi karya mereka. Dalam melakukan teknik engraving, seseorang harus mempunyai keterampilan karena teknik ini menggunakan alat yang bernama burin. Burin merupakan alat yang digunakan untuk mengukir logam.
Seluruh permukaan cat logam diberi tinta, setelah itu tinta dibersihkan hingga yang tersisa hanya tinta yang berada pada garis yang diukir. Kemudian plat logam diletakkan pada alat pres bertekanan tinggi di atas lembaran kertas. Setelah itu kertas mengambil tinta dari garis engraving dan menghasilkan sebuah karya cetak.

Drypoint

Drypoint adalah variasi dari teknik cetak engraving. Teknik ini juga disebut sebagai goresan langsung dengan menggunakan alat runcing. Goresan ini akan menghasilkan kesan kasar pada tepi garis. Drypoint ini hanya bisa digunakan untuk jumlah cetakan yang kecil, sekitar sepuluh sampai dua puluh karya saja.
Hal ini disebabkan karena tekanan alat press dapat cepat merusak kesan kabur yang dibuat. Guna mengatasi hal ini, penggunaan elektro-plating telah digunakan sejak abad ke-19 M guna mengeraskan permukaan plat.
Teknik drypont ditemukan pada abad ke-15 M oleh seniman yang berasal dari Jerman Selatan yang mepunyai julukan Housebook Master. Semua karya yang telah dihasilkan oleh housebook master menggunakan teknik drypoint. Selain housebook master, seniman dunia yang juga menggunakan teknik jenis ini adalah Rembrandt dan Albrecht Durer.

Etsa (Etching)

Etsa adalah teknik cetak seni yang menggunakan media berupa lempeng tembaga. Guna membuat acuan cetak atau klise dilakukan dengan cara menggunakan larutan asam nitrat (HNO3) yang mempunyai sifat korosit terhadap logam tembaga. Teknik etsa ditemukan sekitar tahun 1470-1536 oleh Daniel Hopfer dari Augsburg, Jerman. Dengan teknik etsa Daniel Hopfer mendekorasi baju besinya. Etsa cukup mudah dipelajari oleh seniman yang terbiasa dalam menggambar. Hasil cetakan etsa umumnya memiliki sifat linear serta mempunya detail dan kontur yang halus.
Teknik etsa dikerjakan dengan menutup lembaran plat logam menggunakan lapisan seperti lilin. Setelah itu, lapisan tersebut digores menggunakan jarum etsa yang runcing hingga bagian logamnya terbuka. Kemudian, plat tersebut dicelupkan atau diberi larutan asam di atasnya. Asam tersebut akan mengikis bagian plat yang telah digores. Lapisan yang tersisa akan dibersihkan dari plat, lalu proses pencetakan yang sama dengan proses pencetakan pada engraving.

Mezzotint

Mezzotint merupakan teknik cetak dalam yang menggunakan plat logam yang terlebih dahulu permukaannya dibuat kasar secara merata. Alat yang digunakan dalam teknik ini adalah rocker. Sketsa atau rancangan gambar dibuat dengan mengerok halus permukaan logam dengan menerapkan efek gelap terang.
Gambar bisa dibuat dengan cara membuat kasar bagian tertentu saja, bekerja dari warna gelap ke terang. Mezzotint ditemukan oleh Ludwig von Siegen (1609-1680). Pada pertengahan abad ke-18 M, proses ini digunakan secara luas di Inggris guna memproduksi foto dan lukisan.

Robot Untuk Auto Like Facebook 100% Work

Pengertian Seni Grafis, Sejarah, dan Ragam Seni Grafis ! | Siswa Master | 5

Artikel Lainnya

Previous
Next Post »
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

Posting Komentar

Ayo budayakan komentar setelah membaca artikel ! (Jangan SPAM ya)