Siswa Master

Berbagi Mata Pelajaran Sekolah, Tips Belajar dan Info Menarik Lainnya | Lengkap dan Terpercaya

1 Februari 2017

Pengertian Penyimpangan Sosial, Bentuk, Faktor Penyebab dan Dampaknya

Pengertian, Bentuk, Faktor Penyebab dan Dampak Penyimpangan Sosial - Pernahkah sobat melihat anak muda yang rambutnya disemir warna-warni, bertato, memakai tindik, merokok atau mabuk ? Apa yang sobat pikirkan mengenai mereka ? Adakah sesuatu yang janggal ?

Pengertian Penyimpangan Sosial, Bentuk, Faktor Penyebab dan Dampaknya

Ilustrasi tersebut merupakan salah satu hal yang kita anggap tidak wajar, ganjal atau di luar aturan umum yang ada di masyarakat. Tindakan yang tidak wajar inilah yang dinamakan penyimpangan sosial.

Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa penyimpangan sosial adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan nilai, kaidah atau norma yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.

#1. Pengertian Penyimpangan Sosial Menurut Ahli


Sehubungan dengan itu, ada beberapa pendapat menurut para ahli mengenai penyimpangan sosial. Diantaranya yaitu :

Robert M.Z. Lawang berpendapat bahwa 
penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam masyarakat.
James W. Van der Zanden, mengungkapkan pendapatnya bahwa 
penyimpangan sosial merupakan perilaku yang oleh sejumlah orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
Bruce J. Cohen 
setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
Menurut Ronald A. Hordert, 
Penyimpangan sosial adalah setiap tindakan yang melanggar keinginan-keinginan bersama sehingga dianggap menodai kepribadian kelompok yang akhirnya si pelaku dikenai sanksi.
Paul B. Horton
Mengutarakan bahwa penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat
Gillin
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang menyimpang dari norma dan nilai sosial keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok.
Lewis Coser
Mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.

#2. Ciri-ciri Penyimpangan Sosial


Menurut Paul B. Horton, penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 
  • Penyimpangan harus dapat didefinisikan 
  • Penyimpangan relatif dan mutlak 
  • Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal 
  • Adanya norma-norma penghindaran dalam penyimpangan sosial 
  • Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan)

#3. Bentuk-bentuk Penyimpangan Sosial


Penyimpangan sosial dibedakan menjadi 2 macam/bentuk, yaitu berdasarkan kadar penyimpangan dan berdasarkan pelaku penyimpangan.

a.) Berdasarkan Pelaku penyimpangan
  • Penyimpangan Perseorangan (individu)
Penyimpangan ini dilakukan secara perorangan tanpa campur tangan pihak lain. Orang yang melakukan penyimpangan secara individu biasanya akan dianggap sebagai seseorang yang nakal, bandel, pembangkang atau pelanggar aturan. Contoh dari penyimpangan individu ini yaitu :

Oknum polisi lalu lintas yang meminta uang karena pelanggar (korban tilang) tidak mau ditilang, pejabat negara yang korupsi, munafik, dan perusuh. Siswa yang mencontek ketika ulangan, anak yang belum memiliki SIM sudah mengendarai motor atau mobil.
  • Penyimpangan Kelompok
Merupakan perbuatan yang dilakukan oleh sekelompok orang secara bersama-sama untuk melakukan penyimpangan. Contoh penyimpangan ini adalah pemuda pesta narkoba, sindikat pencurian sepeda motor, tukang begal, sekelompok preman yang memeras pedagang kaki lima, tawuran, bentrok antar warga, pesta bikini, dan lain sebagainya.
  • Penyimpangan Campuran
Penyimpangan campuran dapat diartikan sebagai golongan sosial yang memiliki organisasi terstruktur. Sehingga, individu ataupun kelompok di dalamnya taat dan tunduk kepada norma golongan dan mengabaikan norma masyarakat yang berlaku. Misalnya remaja yang putus sekolah atau pengangguran yang frustasi dari kehidupan masyarakat. Dengan seorang pemimpin, mereka bersatu ke dalam organisasi rahasia yang menyimpang dari norma umum (geng/gangster) 

b.) Berdasarkan Sifat Penyimpangan
  • Penyimpangan Positif
Perilaku yang tidak wajar yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang, namun memiliki dampak positif bagi dirinya maupun orang lain. 

Penyimpangan ini bukan sepenuhnya penyimpangan, namun lebih cenderung memiliki kesan tidak wajar. Penyimpangan positif biasanya diterima masyarakat karena sesuai dengan perkembangan zaman.

Contohnya : anak perempuan yang rambutnya menyerupai laki-laki tapi suka main bola, sopir atau kondektur perempuan, petinju wanita, binaragawan wanita, penari balet laki-laki, dan lain-lain.
  • Penyimpangan Negatif
Penyimpangan yang mengarah pada perilaku yang dipandang rendah dan berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain. Contohnya : membolos, mencontek, melanggar tata tertib, melakukan tindak kriminal.

c.) Berdasarkan Berat/Ringannya Penyimpangan
  • Penyimpangan Primer (ringan)
Penyimpangan ini termasuk ke dalam penyimpangan ringan. Penyimpangan yang seperti ini dilakukan pada saat tertentu saja (insidental) dan umumnya tidak merugikan orang lain. 

Contoh dari penyimpangan ini yaitu mencorat-coret dinding tembok, siswa terlambat ke sekolah, pengendara yang melanggar tata tertib berlalu-lintas, dan tidak taat/telat membayar pajak.
  • Penyimpangan sekunder (berat)
Penyimpangan sekunder adalah penyimpangan berat yang dilakukan berulang kali atau terus menerus dilakukan meski telah diberi sanksi.  Penyimpangan ini menjurus kepada tindak kriminal, seperti pencurian, perampokan, begal, pemerkosaan, dan pembunuhan. Maka dari itu, sudah sangat jelas perilaku penyimpangan ini merugikan orang lain. Para pelaku penyimpangan ini dapat dikenai sanksi tegas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

#4. Faktor Penyebab Penyimpangan Sosial


Penyimpangan sosial akan muncul ketika nilai dan norma mulai diabaikan. Lantas, mengapa seseorang melakukan penyimpangan sosial ? Tentu ada faktor penyebabnya.

Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
  • Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri, (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
  • Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.
Sedangkan faktor penyebab menurut James W. Van der Zanden antara lain :
  • Longgar tidaknya nilai dan norma.
  • Sosialisasi yang tidak sempurna. Contohnya seorang pemimpin idealnya bertindak sebagai panutan dan menjadi tauladan, namun kenyataannya malah sebaliknya.
  • Sosialisasi sub kebudayaan yang menyimpang. Sub kebudayaan yang menyimpang adalah kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma budaya pada umumnya. Contohnya masyarakat yang hidup dan menetap di daerah kumuh kurang memperhatikan etika dan keindahan karena sibuk untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Adapun Casare Lombrosa menyatakan bahwa faktor penyebab penyimpangan sosial adalah sebagai berikut :
  • Biologis, berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu seseorang yang dapat diidentifikasi sifatnya, misalnya melalui anatomi wajah (bentuk muka, mata, alis, bibir, dan sebagainya).
  • Psikologis, terjadinya penyimpangan bisa dikaitkan dengan kepribadian seseorang.
  • Sosiologis, biasanya terjadi karena sosialisasi yang kurang tepat.
Dari berbagai pendapat tersebut, kita bisa menjabarkannya lagi dengan mengelompokannya menjadi Faktor Internal (dari dalam) dan Eksternal (dari luar). 

a.) Faktor Internal
  • Intelegensi
Masing-masing orang di dunia ini tentu memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Ada yang memiliki IQ tinggi, rata-rata dan bawah. Perbedaan intelegensi ini akan berpengaruh terhadap kemampuannya dalam beradaptasi di masyarakat. 

Orang dengan tingkat intelegensi tinggi akan mudah menyesuaikan diri dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, sebaliknya orang yang intelegensinya rendah akan susah menerima dan mentaati penerapan nilai-nilai di masyarakat. Hal ini karena tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas.

Contohnya : pelajar yang pandai cenderung mudah menerima pelajaran, mampu berkompetisi dengan teman lainnya dan berprestasi di sekolahnya. Sedangkan pelajar dengan IQ yang rendah lebih cenderung melanggar norma yang ada di sekolah seperti mencontek ketika ulangan, tidak mengerjakan PR, tidak taat terhadap tata tertib sekolah.

b.) Faktor Eksternal
  • Keluarga
Mengapa keadaan keluarga berpengaruh terhadap munculnya penyakit sosial ? Hal ini dikarenakan keluarga adalah guru pertama, guru yang mendidik anak untuk pertama kalinya. Keluarga memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak. Baik buruknya anak juga sangat dipengaruhi oleh didikan orang tuanya.

Jika kedua orang tua tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Maka anak tersebut tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga. Pada akhirnya anak menjadi nakal. Bandel dan bahkan yang paling ekstrim adalah durhaka kepada orang tua. 

Mirisnya, banyak anak-anak di Indonesia yang mengalami korban kasus broken home. Anak korban broken home ini tentu rentan terjerumus kenakalan remaja, misalnya penyalahgunaan narkoba.

Orang tua yang kurang selektif dalam berperilaku juga rentan ditiru oleh anaknya. Misalnya ayah Tejo suka merokok. Bukan tidak mungkin anaknya akan mengikuti jejak ayahnya untuk merokok. Hal kecil seperti inilah yang perlu diperhatikan oleh orang tua. 

Berbagai bentuk perilaku tersebut perlu di waspadai oleh setiap orang tua, bagaimana mendidik anak dengan baik sehingga memiliki mental yang tangguh, berakhlak mulia, berperilaku santun, dan tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif.
  • Masalah Ekonomi
Di Indonesia, masih banyak orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini, apabila dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan kecenderungan sosial, dimana penyimpangan sosial akan dengan mudahnya dilakukan. 

Jika orang tua belum.tidak mampu memberikan kebutuhan materi karena kemiskinan, maka anak akan melampiaskan kekecewaannya di luar rumah. Pergaulan yang salah diluar rumah tentu akan memicu perilaku menyimpang.

Maka dari itu, pembentukan karakter yang baik berlandaskan norma dan nilai-nilai agama perlu dilakukan oleh orang tua kepada anaknya, sehingga anak tidak ikut terjerumus kepada penyimpangan, bahkan tetap semangat dan berusaha menjalani hari-harinya.

Contoh permasalahan ekonomi ini yaitu masyarakat yang hidup di sekitar tempat wisata, bagi anak yang tidak mendapatkan kebutuhan materi yang cukup dan kurangnya iman akan menjerumuskan anak kepada perilaku menyimpang seperti, judi, miras, prostitusi, dan menjadi preman.
  • Pergaulan
Jika teman pergaulan seseorang itu rata-rata baik maka orang tersebut akan berperilaku baik, sebaliknya jika teman pergaulannya tidak baik maka orang tersebut akan terjerumus.ikut-ikutan menjadi tidak baik pula. Hal ini akan menyebabkan seseorang terpengaruh ke hal-hal negatif yang sekiranya melanggar norma, aturan dan tatanan nilai dalam masyarakat.
  • Media Masa
Media masa akan menjadi pedang dua sisi, jika kita menggunakannya dengan baik maka kita memperoleh manfaat begitu pula sebaliknya.

Misalnya tayangan di televisi yang kurang mendidik sangat mudah mempengaruhi kepribadian anak dan remaja yang sedang dalam tahap mencari jati dirinya. Sinetron atau acara yang menayangkan sadisme, kriminalitas, materialisme, dan pornografi sangat berpengaruh terhadap jiwa perkembangan psikologis anak.
Masuknya Kebudayaan Asing di Era globalisasi

Saat ini arus globalisasi telah nampak di berbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Budaya asing yang sekiranya kurang baik. Menyimpang dari tatanan sosial sangatlah mudah untuk masuk ke dalam roda kehidupan masyarakat. Akibatnya masyarakat akan terbawa arus dan mengikutinya. Misalnya saja anak muda  kekinian yang mengikuti trend budaya luar, glamour dan pamer tubuh.
  • Pelabelan atau Ingin dipuji
Ketika seseorang melakukan hal menyimpang, kerap kali banyak cibiran yang datang dari orang-orang di sekitarnya. Penyimpangan yang dilakukan berulang kali akan menjadikan orang-orang memberinya julukan/cap/label negatif. Awalnya pelaku hanya melakukan penyimpangan primer, namun karena  di cap oleh orang di sekitarnya dia akhirnya melakukan penyimpangan sekunder.

Contohnya :

Seorang anak pernah mencuri pulpen milik temannya dan ketahuan. Setelah kejadian itu, dia menjadi bahan pembicaraan teman-temannya di sekolah dan dicurigai semua orang. Karena julukan “pencuri” telah melekat pada anak tadi, maka akan menyebabkan tekanan batin. Akhirnya dia malah melakukan hal yang lebih ekstrim, mencuri barang yang nilainya lebih besar, misalnya handphone atau laptop temannya. Bahkan dia bisa melakukannya di luar area sekolah.

#5. Dampak Penyimpangan Sosial


Jika seseorang melakukan hal yang menyimpang. Tentu akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan dapat terjadi. Penyimpangan sosial dapat berdampak kepada diri sendiri (individu) maupun masyarakat di sekitarnya.

a.) Dampak bagi Diri Sendiri (Individu)
  • Menghancurkan masa depan diri pelaku yang menyimpang. Terlebih yang melakukan penyimpangan negatif.
  • Mencelakakan diri sendiri.
  • Menjauhkan diri dari akhlak mulia dan menjauhkan dirinya dari Tuhan.
  • Terkucil : Pada dasarnya segala bentuk penyimpangan akan ditolak oleh masyarakat. Pelaku penyimpangan biasanya dikucilkan dari segala urusan kemasyarakatan. Pengucilan ini dapat melalui bidang hukum yaitu penjara, bidang sosial yaitu tidak diakui keberadaannya, atau di bidang budaya yang keberadaannya ditolak bahkan diusir dari lingkungannya.
  • Terganggunya Perkembangan jiwa : Karena melakukan kesalahan lalu ditolak oleh masyarakat, secara otomatis pelaku penyimpangan akan tertekan, terutama psikologisnya. Mental dan jiwanya lama kelamaan bertambah suram dan terpuruk.
  • Rasa Bersalah : Sebagai seorang manusia, pelaku penyimpangan tentu akan merasa malu, bersalah dan menyesal telah melanggar nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
b.) Dampak bagi Masyarakat
  • Mengganggu keamanan dan ketertiban.
  • Merusak unsur-unsur budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
  • Mumudarnya nilai dan norma : Hal ini dikarenakan penyimpangan yang terjadi tidak mendapatkan sanksi yang tegas dan jelas sehingga timbul sikap apatis terhadap pelaksanaan menjunjung nilai dan norma yang berlaku. Pada akhirnya nilai dan norma tersebut tidak lagi dianggap penting oleh masyarakat.
  • Terganggunya Keseimbangan sosial : Perilaku menyimpang merupakan penyimpangan melalui struktur sosial. Karena masyarakat merupakan struktur sosial, maka dampak penyimpangan pasti akan berdampak kepada masyarakat dan mengganggu keseimbangan sosialnya.
Kesimpulan

Penyimpangan sosial  sadar tidak sadar pasti pernah kita lakukan. Penyimpangan sosial dapat terjadi dimanapun dan dilakukan oleh siapapun. Sejauh mana penyimpangan itu terjadi, besar atau kecil, dalam skala luas atau sempit pasti akan mengganggu keseimbangan hidup dalam masyarakat. Untuk itulah, kita perlu mencegahnya dengan pengendalian sosial.

^Referensi :
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang
  • Buku LKS PPKn SMP
  • http://www.softilmu.com/2014/07/penyimpangan-sosial-pengertian-ciri.html

Ayo budayakan komentar setelah membaca artikel ! (Jangan SPAM ya)

 
Back To Top