Siswa Master

Berbagi Mata Pelajaran Sekolah, Tips Belajar dan Info Menarik Lainnya | Lengkap dan Terpercaya

26 Juli 2016

Pendidikan Sekolah Hanyalah Formalitas Semata, Kamu Setuju ?

Pernahkah sobat dinasehati oleh bapak/ibu guru supaya meraih cita-cita setinggi langit ? Waktu SD saya juga pernah dinasehati seperti itu. Dulu, waktu saya masih kecil, saya punya cita-cita banyak. Ingin jadi guru, jadi pelukis, jadi PNS, jadi pengusaha dan lain-lain. Tapi pada akhirnya, setelah sekian lama bersekolah, saya memutuskan bercita-cita menjadi seorang pengusaha.

Pendidikan Sekolah Hanyalah Formalitas Semata

Tapi bagaimana caranya meraih cita-cita tersebut ?

Benarkah sekolah adalah satu-satunya jalan untuk meraihnya ?

Nyatanya, salah besar !

Menurut saya, pendidikan sekolah hanya formalitas belaka.

Mengapa saya berani bilang seperti itu ?

Hal ini mungkin karena pola pikir saya mengangap bahwa ilmu yang diajarkan di sekolah sangatlah “universal”

Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS, dan mata pelajaran lainnya. Pernahkah sobat berpikir seperti ini dalam lubuk hati sobat ?

“Akankah ilmu yang saya peroleh di sekolah ini berguna di masa depan ? Dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ?”

Kita ambil contoh pelajaran matematika. Dari TK sampai Perguruan Tinggi kita mengenal mata pelajaran ini. Mungkin sobat tahu theorema phytagoras, aljabar, fungsi, geometri, dan peluang. 

Mungkin juga sobat sangat paham ilmu-ilmu di atas, tapi, jika ilmu yang sobat pahami tidak dapat diaplikasikan, ya percuma juga kan ?

Paling-paling kalau kita sudah lulus sekolah yang dipakai cuma tambah, kurang, bagi, dan kali. Selain itu ? Mungkin jarang. 

Namun, bukan berarti matematika itu tidak penting. Ilmu matematika juga dapat diimplemantasikan untuk pekerjaan kontruksi bangunan, pembuatan alat transportasi, akuntansi, pajak, marketing, dan lain-lain.

“Ilmu sekolah tidak begitu penting, tapi pada kondisi tertentu ilmu sekolah menjadi sangat penting”

Memang ada beberapa cita-cita yang membutuhkan ilmu yang cukup banyak, tapi apakah kita harus bergantung pada ilmu-ilmu di sekolah tersebut ? Jika sobat berpikir lebih keras memikirkan masa depan sobat, maka hal yang terpenting adalah skill (keterampilan).

Ilmu di sekolah mengacu pada teori-teori tidak jelas yang mana belum tentu dapat diaplikasikan di masa depan, kalaupun iya, kemungkinannya hanya sedikit. Sedangkan skill (keterampilan) mungkin  menjadi hal yang paling sering di aplikasikan orang-orang sukses.

Namun, jika seseorang punya skill yang mumpuni tapi tidak punya mental tahan banting (kerja keras), manfaat skill  tentu tidak dapat dirasakan dan dinikmati.

Baca juga : Sukses Tidak Harus Pintar Matematika

Ilustrasi 1 

Sobat tau pendiri facebook ? Yap, dia bernama Mark Zuckerberg. Dia dulunya adalah seorang Mahasiswa di Harvard University, Amerika Serikat. Pada suatu hari, ia diberi tugas oleh dosennya dan bersama teman sekamarnya ia akhirnya menemukan sebuah sosial media sederhana. Ia lalu memberinya nama “The Facebook”

Seiring berjalannya waktu, “the facebook” banyak yang suka. Karena merasa sudah banyak orang yang masuk, Mark mengganti “The Facebook” menjadi “Facebook”. Hingga saat ini, orang yang join ke facebook sudah mencakup berbagai penjuru dunia. 

Tapi, ada fakta menarik di balik kesuksesan facebook. Demi suksesnya facebook, Mark rela berhenti menjadi seorang mahasiswa dan lebih fokus mengembangkan sosial media tersebut. 

Karena kerja keras dan ketegasannya dalam memilih jalan hidup, saat ini ia menjadi pemuda yang sangat kaya di dunia. Ini tentu merupakan pencapaian fantastis dari seorang anak muda yang rela berhenti bersekolah demi kesuksesan hidupnya.

Cerita Mark di atas merupakan satu dari sekian banyak cerita sukses orang-orang besar yang ada di dunia ini. Faktanya, “ilmu sekolah” tidak begitu penting jika “keterampilan” mendominasi pikiran kesuksesan seseorang.

Pola pikir Mark yang percaya bahwa keterampilan kodingnya akan membuahkan hasil, pada akhirnya menghasilkan pula. Mungkin, jika Mark tidak memutuskan berhenti bersekolah, facebook belum tentu menjadi seperti sekarang ini.

Ilustrasi 2

Ada seorang anak (A) yang sangat pintar dalam kelasnya becita-cita sebagai seorang guru. Satu anak lagi (B), yang tergolong kurang pintar dalam kelasnya bercita-cita sebagai seorang pengusaha kaya.


(A) sangat gemar belajar dan mampu meneruskan pendidikannya ke jenjang Perguruan Tinggi sedangkan (B) kurang suka belajar dan hanya menamatkan pendidikannya di jenjang SMK.

Dibalik kekurangan si (B), terselip beberapa kelebihan. Ia dengan percaya diri banting stir membuka usaha kecil-kecilan service komputer dan laptop. Ia sangat gigih dalam mencapai kemajuan usahanya. Sedangkan si (A) masih sibuk belajar di bangku kuliahnya.

8 tahun kemudian, si (B) menjadi pengusaha kaya raya dan si (A) menjadi seorang guru teladan. Keduanya sama-sama berhasil menggapai cita-citanya.

Bagi si (B) ilmu hanyalah formalitas dan skill dan usaha keras adalah yang terpenting. Sedangkan si (A) menganggap skill tidak begitu penting, dan ilmu pengetahuan adalah yang terpenting.

Lalu bagamaimana dengan sobat ?

Mau setuju dengan si (A) atau si (B) ?

Pikirkan dengan seksama ya ! :D

*tulis jawabannya di kolom komentar 

Ayo budayakan komentar setelah membaca artikel ! (Jangan SPAM ya)

 
Back To Top