Siswa Master

Berbagi Mata Pelajaran Sekolah, Tips Belajar dan Info Menarik Lainnya | Lengkap dan Terpercaya

7 Mei 2016

Setuju Gak Loe : Belajar itu Bukan Menghafal, Tapi Berpikir dan Memahami !

Pernahkah sobat berpikir bahwa belajar itu terlalu banyak hafalannya ? Dan pernahkah sobat berpikir dua kali dan bertanya, “Untuk apa sih saya menghafal seperti ini ?”. Hmmmm... Sebenarnya tulisan ini merupakan pandangan saya terhadap metode pembelajaran sekolah di Indonesia saat ini.

Setuju Gak Loe : Belajar itu Bukan Menghafal, Tapi Berpikir !

Pada dasarnya menghafal itu penting, tapi tidak terlalu. Dalam kehidupan sehari-hari, menghafal memang diperlukan untuk beberapa tujuan. Meskipun demikian, menghafal memiliki titik lemah.

Jika kita kaitkan dengan proses belajar, metode menghafal bukanlah cara yang bagus untuk perkembangan otak, menghafal akan menjadikan otak lebih bekerja keras untuk mengingat. Ya, mengingat....mengingat....dan.....mengingat.

Menyimpan berbagai hal tentu akan membuat memori otak jenuh dan akan menjadikan otak lebih memfokuskan kepada kekuatan ingatan dibanding kekuatan untuk berpikir.

Menurut saya, MENGHAFAL DALAM BELAJAR benar-benar KURANG BAIK untuk kinerja otak. Mengapa saya katakan demikian ? Mari kita simak penjelasannya....

Kita mulai bagian akarnya, yaitu otak. Seperti yang kita tahu, otak merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh manusia. Di dalam otak, terdapat beberapa bagian, diantaranya otak bagian kanan dan kiri. Kedua bagian tersebut juga berpengaruh dalam aktivitas mengingat dan berpikir.

Mengingat dan berpikir adalah sesuatu yang berbeda namun sama-sama diperlukan dalam proses menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bandingkan mana yang lebih penting antara mengingat dan berpikir, maka jawaban yang paling tepat adalah berpikir.

Dalam proses belajar yang lebih mengutamakan menghafal, kita mengadopsi istilah “Proses dari yang tidak tahu menjadi tahu”. Sedangkan proses belajar yang lebih mengutamakan cara berpikir, logika dan motorik, kita mengadopsi istilah “Dari yang belum ada menjadi ada (proses berpikir untuk menemukan gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya)”.

Seorang Ilmuwan Dunia, juga memiliki pandangan yang sama. Ia bahkan tidak tahu berapa jarak 1 mil dalam satuan meter atau hal-hal yang bersifat menghafal. Pandangannya, ia tidak perlu memenuhi otaknya dengan berbagai hal seperti itu. Jika diperlukan, ia bisa saja membeli buku lalu mencari informasi yang sedang dibutuhkannya.

Tidak perlu pusing-pusing dan berpikir lebih keras untuk mengingat hal-hal yang sudah ada di dalam buku, dalam 5 menit bahkan kurang dari itu, kita sudah bisa mencari informasi yang kita inginkan.

Saya berani bertaruh, jika seseorang yang mampu menemukan gagasan dan inovasi baru itu lebih dibutuhkan, dibanding seseorang yang hanya menerapkan hafalannya dari sebuah buku.

Orang-orang yang berpikir besar meyakini bahwa berpikir dan menemukan gagasan baru jauh lebih penting daripada sekadar menghafal.

Memang menjadi pemikir besar seperti seorang ilmuwan itu sulit, namun.... bagaimana kita akan mengikuti jejaknya jika kita tidak mau berusaha dan takut untuk memulai ?

Kembali ke topik. Berawal dari berpikir, muncul ide dan gagasan , setelah itu kita berpikir jauh lebih keras untuk menyempurnakan ide dan gagasan tersebut hingga akhirnya tercipta MAHAKARYA BARU yang belum pernah ada sebelumnya.

Inilah proses belajar yang sangat kita butuhkan guna membangun kemajuan bangsa. Ya, berpikir.....berpikir.....dan..... terus berpikir, itulah yang lebih penting. 

Memang untuk menciptakan suatu karya itu sulit, namun itu jauh lebih bermakna daripada kita meniru gagasan orang lain. Apa yang sudah ada kita hafal, lalu diterapkan. Bukankah itu akan mem-BUNTU-kan daya kreasi kita ? Bukankah itu akan melemahkan kinerja otak dalam berkarya, berekspresi dan berimajinasi ?

Memang pendidikan Indonesia saat ini masih menekankan pada aspek teoritis yang bersifat menghafal. Jika dipikir lebih jauh, saya berasumsi bahwa metode pembelajaran saat ini 80% bersifat menghafal dan selebihnya bersifat logika dan motorik. 

Jika saja prosentase tersebut kita balik (80% berpikir, logika dan motorik) dan (20% menghafal), maka bukan tidak mungkin banyak generasi muda yang tumbuh menjadi sosok yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan negeri ini.

Menghafal itu memang perlu tapi tidak terlalu. Yang jauh lebih penting yaitu bagaimana kita berpikir untuk mengembangkan otak kita, sehingga nantinya kita mampu menciptakan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar.

Dengan adanya tulisan ini, saya berharap pemerintah dapat menerapkan sistem pendidikan yang lebih efektif guna meningkatkan mutu peserta didik. 

Sistem pendidikan yang terlalu mengacu pada aspek teoritis dan hafalan mungkin dapat dirubah menjadi proses pembelajaran yang lebih  menekankan peserta didik untuk berpikir. Metode pembelajaran seperti ini tentu akan membuka pola pikir peserta didik menjadi lebih luas dalam berekspresi dan berkreasi. 

Baca yang Greget Lainnya :

Berbagai ulasan di atas adalah pendapat penulis, lalu bagaimana dengan pendapatmu ?

Ayo budayakan komentar setelah membaca artikel ! (Jangan SPAM ya)

 
Back To Top