Siswa Master

Berbagi Mata Pelajaran Sekolah, Tips Belajar dan Info Menarik Lainnya | Lengkap dan Terpercaya

27 Mei 2016

Jangan Anggap Nilai itu Segalanya, Nilai itu Dapat dimanipulasi !

Jika nilai dapat dimanipulasi, mau jadi apa negeri ini ? Tapi, memang seperti inilah adanya. Ijazah, SKHU, Raport, Ulangan Harian, UTS, UAS, US, UN, IPK adalah beberapa hal yang sangat erat kaitannya dengan nilai. 

Jangan Anggap Nilai itu Segalanya, Nilai itu Dapat dimanipulasi !


Saat ini, nilai seakan-akan sangat dianak emaskan oleh berbagai kalangan, baik itu pelajar, orang tua, guru, pemerintah maupun perusahaan semuanya mengidolakannya. Miris !

Nilai bagus, berarti pintar.....
Nilai 95 dan 100, berarti pintar....
Nilai 35, berarti bodoh....

Tapi benarkah yang demikian itu ? Hmmm entahlah. 

Nilai bagus tidak menjamin bahwa itu adalah murni hasil kerja sendiri. Banyak sudah kasus manipulasi nilai yang dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab. Kita ilustrasikan saja dengan cerita berikut ini :

Nama saya Jono, saya adalah pelajar dari salah satu sekolah negeri di Indonesia. Saya tidak begitu pintar, tapi juga tidak terlalu bodoh, saya sedang-sedang saja. Jadi, begini ceritanya.....

Ketika ada ulangan harian, UTS, atau UAS, saya belajar dengan sungguh-sungguh. Saya belajar dengan menggunakan teknik SKS (Sistem Kebut Semalam). Yah, cara ini memang kurang bagus, tapi beginilah saya belajar. 

Walaupun begitu, saya berusaha untuk belajar dan terus belajar. Pada akhirnya, saya pusing 7 keliling dalam menghafal dan memahami berbagai hal.

Kemudian pada saat aku ke sekolah, aku masih tetap mempelajari materi yang sangat sulit dipahami. Di tengah kesibukanku belajar, saya melihat situasi yang kurang mengenakkan. 

Teman-temanku bukannya belajar malah membuat contekan. Contekan itu diselipkan ke dalam kertas/sobekan kecil, disamarkan di papan berjalan bahkan di kotak pensil. 

Seketika, bel berbunyi menandakan ujian akan segera dimulai. Saya dan teman-teman masuk ke ruangan dan duduk. Ketika soal dibagikan, saya langsung mengerjakannya. Dan dugaanku benar, soalnya benar-benar sulit. Pusing sekali mengerjakannya. Saya bingung. Saya pun frustasi menghadapi soal yang begitu susah.

Sejenak saya mengambil nafas dan melihat sekeliling. Apa yang saya saksikan ? Teman-temanku mulai beraksi untuk mencontek. Mereka bertanya ke sana-kemari, ada yang membuka contekan yang sudah dibuat, lirik sana lirik sini dan trik aneh lainnya. 

Saya tidak berani melaporkannya karena saya takut dijauhi dan dikucilkan teman. Saya tidak berani karena takut dikata “MUNAFIK”. Jadi, saya hanya bisa diam. Berdiam diri dan membisu, hal itulah yang hanya bisa saya lakukan.

Tanpa disadari, waktu terus berlalu dan teman-teman sudah keluar ruangan. Mereka bergantian keluar ruangan dan tinggal saya seorang diri. Setelah berjuang dengan kerasnya, akhirnya saya menyelesaikannya juga dan keluar ruangan.

Seminggu berselang, nilai-nilai pun dibagikan. Terlihat semua temanku berwajah ceria dan bangga. Terkecuali diriku. Ya, hanya aku yang dapat nilai jelek. Nilaiku 45. Gila ! Jelek banget. 180 derajat, berbanding terbalik dengan teman-temanku. 

Rasa sakit, kecewa, marah dan sebal menggerogoti hatiku. Sejenak batinku berkata “Ulangan macam apa ini ? Inikah yang namanya keadilan ? SHIT !”.

- end. –

Oke, cerita tersebut saya yakin benar-benar terjadi di sekolah sobat. Jika memang seperti itu adanya, adakah pelajar yang benar-benar jujur di dalam kelas ? Adakah mereka ? 

Nah tidak dapat dipungkiri, pelajar itu memang berbeda-beda. Ada yang jujur, ada juga yang tidak. Itu semua tergantung dari kepribadian masing-masing.

Intinya.....

Bangga karena nilai bagus itu boleh, tapi jangan berlebihan. Jangan terlalu bangga juga jika mendapat nilai bagus karena menyontek, karena menyontek itu payah. Membodohi diri sendiri !

Saya sebagai pelajar biasa juga pernah menyontek. Saya tidak ingin munafik di sini. Jujur, saya pernah menyontek. Tapi itu dulu. Sekarang ? Sepertinya sangat jarang.

Saya menyadari, menyontek adalah kegiatan yang merugikan banyak pihak, termasuk diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, saya benar-benar berusaha untuk menjauhi kegiatan yang namanya “MENYONTEK” ketika ulangan. 

Baca juga : Percuma Sekolah Kalau Bisanya Cuma Nyontek

Tekad itu alhamdulillah masih saya jaga dan saya pertahankan. Jadi, untuk urusan contek mencontek sudah sangat jarang saya lakukan saat ini. 

Semoga dengan adanya artikel ini, kita semua sadar bahwa menyontek adalah sesuatu yang merugikan. Nah dari sini, kita juga harus berpikir 2 kali tentang nilai-nilai kita. 

Benarkah itu murni hasil dari usaha keras sendiri atau manipulasi semata ?

Tentunya hanya sobatlah yang bisa menjawab. Kesimpulannya kita harus mengintrospeksi diri kita masing-masing agar menjadi manusia yang lebih baik.

Oke, cukup sekian dan terimakasih.....

Salam Pelajar Indonesia !

Ayo budayakan komentar setelah membaca artikel ! (Jangan SPAM ya)

 
Back To Top