Siswa Master

Berbagi Mata Pelajaran Sekolah, Tips Belajar dan Info Menarik Lainnya | Lengkap dan Terpercaya

21 Maret 2016

Pengertian VOC, Tujuan, Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya

Tujuan VOC, Latar Belakang didirikannya VOC, dan Sejarah Singkat Berdirinya VOC di Indonesia - Apa itu VOC ? VOC merupakan singkatan dari Vereenidge Oostindische Compagnie yang berarti “Persekutuan Perusahaan Hindia Timur”. Penamaan Hindia Timur karena ada juga persekutuan dagang Hindia Barat yang bernama Geoctroyeerde Westindische Compagnie.

Pengertian, Tujuan, Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya VOC di Indonesia

#1. Pengertian VOC Secara Singkat


VOC adalah kongsi dagang asal Belanda yang memonopoli aktivitas perdagangan di Asia dan menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur.

Sebagai sebuah kongsi dagang, VOC memiliki beragam hak istimewa dan kewenangan yang sangat luas. Walau hanya sebuah kongsi dagang saja, VOC didukung penuh oleh negara (Belanda) dan difasilitasi secara istimewa.

Misalnya VOC boleh memiliki pasukan perang dan mengadakan perjanjian dengan negara lain. Ini juga alasan mengapa VOC sering disebut sebagai negara di dalam negara.

VOC oleh kalangan orang Indonesia sering juga disebut dengan Kumpeni atau Kompeni. Mengapa ? Karena umumnya mayoritas orang Indonesia lebih mudah dalam pengucapannya (diambil dari kata compagnie). Namun rakyat Nusantara lebih mengenal Kompeni sebagai tentara Belanda bukan sebagai sebuah kongsi dagang.

Itulah sedikit penjelasan singkat mengenai arti dari VOC, namun alangkah baiknya jika sobat memahami VOC lebih luas lagi. Makin banyak wawasan, makin baik bukan ?

#2. Latar Belakang Kelahiran/Berdirinya VOC


Latar belakang secara singkat :
  • Keinginan untuk memonopoli perdagangan.
  • Menghilangkan persaingan antar pedagang Belanda dan Eropa
Latar belakang secara kronologis :

Pedagang dari bangsa Barat datang ke Indonesia dengan itikad baik dan mulai membentuk kongsi dagang. Seiring berjalannya waktu, kongsi dagang di Nusantara semakin banyak hingga timbul persaingan antara kongsi dagang satu dengan lainnya. Persaingan tersebut semakin ketat hingga tidak mengenal kongsi sesama bangsa. Hal ini menyebabkan kerugian terhadap pemerintah Belanda karena para pedagang Belanda juga saling berseteru.

Sehubungan dengan hal itu, pada tahun 1598 pemerintah dan Parlemen Belanda (Staten Generaal) khususnya Johan van Oldenbarneveldt mengusulkan untuk membentuk kongsi dagang yang lebih besar dengan membentuk perusahaan dagang, seperti yang telah dilakukan oleh Inggris (EIC) dan Perancis (French East India Company pada tahun 1604).

Usulan tersebut mendapat sambutan baik, dan pada 20 Maret 1602 didirikanlah kongsi dagang “Persekutuan Perusahaan Hindia Timur” atau lebih dikenal sebagai VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie).

#3. Sejarah Singkat Berdirinya VOC


Perjalanan mengarungi jalur laut oleh penjelajah untuk mencari keuntungan dan kekayaan pada akhirnya tercapai. Berbagai tujuan dapat dikatakan berhasil setelah menemukan daerah penghasil rempah-rempah di wilayah Nusantara. Pada awalnya, bangsa Eropa datang ke Asia Timur dan Tenggara (termasuk Nusantara) adalah untuk berdagang, termasuk juga dengan bangsa Belanda.

Misi dagang tersebut kemudian dilanjutkan dengan membentuk kolonialisasi (politik pemukiman) dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera, Jawa, dan Maluku. Hal tersebut lalu menjadi cikal bakal kolonialisasi di Indonesia.

Pada tahun 1591, Portugis melakukan kerjasama dengan Jerman, Spanyol dan Italia menggunakan Kota Hamburg sebagai pelabuhan utama. Kota itu digunakan untuk mendistribusikan barang dari Asia dan memindahkan jalur perdagangan agar tidak melewati Belanda.

Hal ini justru membuat perdagangan Portugis tidak efisien dan tidak mampu menyuplai permintaan yang tinggi, terutama lada. Lambat laun harga lada melonjak drastis kala itu.

Karena beragam faktor tersebut, Belanda akhirnya memutuskan ikut masuk ke perdagangan rempah-rempah dunia. Ekspedisi Belanda pun mulai dilakukan, hingga akhirnya Jan Huygen van Linschoten dan Cornelis de Houtman menemukan “jalur rahasia”. Penemuan jalur rahasia ini merupakan kesuksesan bagi Belanda, terutama keberhasilan Cornelis de Houtman atas ekspedisinya.

Setelah penemuan jalur tersebut, Belanda mulai melakukan ekspedisi kembali pada tahun 1596 dan singgah di Banten yang merupakan Pelabuhan utama di Pulau Jawa (1595-1597).  Ekspedisi yang dipimpin Cornelis tersebut merupakan kontak pertama antara Indonesia dengan Belanda.

Ketika sampai di Banten, Belanda mendapat perseteruan dari Portugis dan penduduk lokal. Belanda mundur lalu melanjutkan perjalanannya ke arah timur melalui pantai utara Jawa. Perjalanan tidak berjalan dengan mulus, Belanda diserang penduduk lokal di Sedayu (12 awak meninggal) dan mendapat perseteruan dari penduduk lokal Madura (pimpinan lokal terbunuh).

Karena banyak korban, akhirnya Belanda pulang ke negerinya dengan membawa rempah-rempah sebagai keuntungan yang melimpah.

Kembalinya Cornelis ke negerinya menyebabkan bangsa Belanda berbondong-bondong datang ke Nusantara untuk berdagang guna mencari untung. Semakin ramainya pedagang Belanda di Nusantara menyebabkan persaingan dagang semakin ketat.

Para pedagang Portugis bersaing dengan pedagang Spanyol, pedagang Spanyol bersaing dengan Inggris, Inggris bersaing dengan Belanda, dan seterusnya hingga antar bangsa pun saling bersaing.

Semakin banyaknya pedagang bangsa asing, tentu kurang baik untuk mencari keuntungan. Hal ini akhirnya disiasati melalui kerjasama membentuk sebuah kongsi dagang guna memperkuat kedudukan di “Dunia Timur”. Masing-masing kongsi dagang dari suatu negara membentuk persekutuan dagang bersama.

Adapun Inggris yang membentuk perusahaan dagang Asia pada 31 Desember 1600 dan dinamai “The British East India Company “ (sering disebut EIC) yang berpusat di Kalkuta, India. Dari Kalkuta, kekuatan dan kebijakan di “Dunia Timur” dikendalikan. Bahkan pada tahun 1811, kedudukan Inggris begitu kuat dan meluas bahkan pernah berhasil menempatkan kekuasaannya di Nusantara.

Ketatnya persaingan dagang juga berlaku antar pedagang Belanda. Antar kongsi dagang ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya walau pesaingnya adalah pedagang dari negeri sendiri.

Hal ini mendapat tanggapan serius dari pemerintah Belanda, karena bukan tidak mungkin Belanda akan sangat merugi.

Sehubungan kejadian itu,  pada tahun 1598 pemerintah dan Parlemen Belanda (Staten Generaal), khususnya Johan van Oldenbarneveldt mengusulkan untuk membentuk kongsi dagang yang lebih besar, dengan membentuk perusahaan dagang seperti yang telah dilakukan oleh Inggris dan Perancis.

Usulan ini disambut dengan baik dan terlaksana 4 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 20 Maret 1602 dengan menghabiskan modal pertamanya sekitar 6,5 miliar gulden. Kongsi dagang itu kemudian diberi nama VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie) dan dalam bahasa Indonesia berarti “Persekutuan Perusahaan Hindia Timur”, yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda.

Didirikannya VOC tentu memiliki berbagai tujuan. Bukan asal-asal membuat.

#4. Lalu, Apa Tujuan didirikannya VOC ?


Tujuan pembentukan VOC seperti tertuang dalam perundingan 15 Januari 1602 adalah untuk “menimbulkan bencana pada musuh dan guna keamanan tanah air”. Maksud dari musuh kala itu adalah bangsa Spanyol dan Portugis yang bersekutu untuk merebut dominasi kekuasaan di Asia pada kurun waktu antara Juni 1580 – Desember 1640.

Adapun tujuan lainnya yaitu :
  • Membantu dana pemerintahan Belanda.
  • Menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.
  • Menguasai pelabuhan-pelabuhan penting di Indonesia.
  • Menghindari persaingan curang yang akan merugikan para pedagang Belanda.
  • Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.
  • Memperkuat kedudukan Belanda agar tidak tersaingi Portugis dan bangsa Eropa lainnya.
  • Agar dapat memonopoli perdagangan di Nusantara terutama memonopoli rempah-rempah.

#5. Sistem Birokrasi Politik VOC


Awal mulanya, VOC dipimpin oleh Dewan Tujuh Belas. Seiring berjalannya waktu, VOC mulai memperoleh kekuasaannya di berbagai daerah. Hingga pada akhirnya kekuasaan VOC sangat luas dan tidak memungkinkan untuk dipimpin oleh Dewan 17.

Untuk memerintah kekuasaan VOC yang sangat luas, tentunya diperlukan seorang pemimpin yang dapat diandalkan. Sehubungan hal tersebut, maka diangkatlah jabatan Gubernur Jenderal yang akan memimpin sistem monopoli VOC. Tujuannya ? Tentu agar lebih efektif dan produktif.

Dalam memimpin, seorang Gubernur dibantu oleh empat orang anggota yang disebut Raad van Indie (Dewan India).

Di bawah Gubernur Jenderal terdapat gubernur yang memimpin suatu daerah, di bawahnya lagi ada residen yang dibantu asisten residen.

Pieter Both sebagai Gubernur pertama harus melakukan tugasnya dengan baik. Pada tahun 1610, ia mendirikan pos perdagangan di Banten dan pada tahun itu juga ia meninggalkan Banten untuk memasuki Jayakarta.

Pangeran Wijayakrama sebagai penguasa Jayakarta sangat terbuka dalam hal perdagangan. Jadi pedagang asal manapun boleh berdagang di sana. Karena keterbukaan itulah menjadikan Jayakarta sebagai kota yang sangat ramai.

Di tahun  1611, Pieter Both melakukan perjanjian dengan penguasa Jayakarta untuk membeli tanah seluas 50x50 vadem (1 vadem =182 cm). Lokasinya di timur Muara Ciliwung. Lokasi ini lalu didirikan bangunan sebagai basis administrasi VOC di Nusantara.

Kesuksesan Pieter Both lainnya adalah mengadakan perjanjian dan menanamkan pengaruhnya di Maluku kemudian berhasil mendirikan perdagangan di Ambon. Setelah itu Frederik de Houtman menjadi Gubernur VOC di Ambon (1605-1611) dan di Maluku (1621- 1623).

Kenapa Jayakarta dipilih sebagai pusat kedudukan VOC ? 

Ini alasannya...

  • Jayakarta lebih strategis dibandingkan dengan Ambon karena terletak di tengah jalur perdagangan Asia.
  • Jayakarta memudahkan VOC menyingkirkan Portugis di Selat Malaka.

Pada awalnya, orang Belanda bersikap baik dengan rakyat. Sikap baik dari rakyat juga dimanfaatkan VOC untuk memperkuat kedudukannya di Nusantara. Seiring berjalannya waktu, sikap orang Belanda berubah menjadi sombong, congkak dan tamak. Karena merasakan nikmatnya tinggal di Nusantara, Belanda semakin bernafsu untuk menguasai dan menghalalkan segala cara, seperti paksaan dan kekerasan demi memperoleh keuntungan.

Sikap tersebut membuat kebencian rakyat, dan pada 1618 Sultan Banten dibantu tentara Inggris di bawah laksamana Thomas Dale berhasil mengusir VOC dari Jayakarta. Setelah VOC tersingkir, selanjutnya rakyat mengusir Inggris dari jayakarta pada 1619, dan akhirnya Jayakarta dikuasai oleh kesultanan Banten.

Saat JP. Coen dilantik sebagai Gubernur jenderal, ia mulai menjalankan aksinya. Ia sangat kejam dan ambisius. Merasa bangsanya dipermalukan Banten dan Inggris, ia mempersiapkan pasukan untuk menyerang Jayakarta. 18 kapal perangnya mengepung Jayakarta lalu membumihanguskannya pada 30 Mei 1619.

Setelah dihancurkan, Belanda mendirikan kota kembali bergaya kota dan bangunan di Belanda. Jayakarta hilang, dan muncul kota baru yang dinamai Batavia.

Gubernur Jenderal VOC yang dapat dikatakan berhasil lainnya dalam melakukan pengembangan usaha perdagangan dan kolonialisme di Indonesia, diantaranya :

  1. Jan Pieterszoon Coen : Pendiri Batavia dan pencetus kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia.
  2. Antonio van Diemen : Memperluas kekuasaan VOC ke Malaka tahun 1641 dan mengirim misi pelayaran ke Australia dan Selandia Baru.
  3. Joan Maetsuycker : Memperluas kekuasaan ke Padang, Semarang, dan Manado.
  4. Cornelis Speelman : Mengalahkan perlawanan Sultan Hasanuddin dari Makassar, meredakan pembrontakan Trunojoyo di mataram, dan mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten.
Pelaksanaan sistem pemerintahan oleh VOC menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung dengan memanfaatkan sistem feodalisme yang sudah berkembang di Nusantara.

#6. Gubernur VOC ( sejarah pergantian kepengurusan VOC)


Dalam mewujudkan tujuannya, VOC telah beberapa kali melakukan pergantian pimpinan kepengurusan. Berikut beberapa nama Gubernur Jendral yang memimpin VOC :

1610-1614 Pieter Both
1614-1615 Gerard Reynest
1616-1619 Laurens Reael
1619-1623 Jan Pieterszoon Coen
1623-1627 Pieter de Carpienter
1627-1629 Jan Pieterszoon Coen
1629-1632 Jacques Specx
1632-1636 Hendrik Brouwer
1636-1645 Antonio van Diemen
1645-1650 Cornelis van der Lijn
1650-1653 Carel Reyniersz
1653-1678 Joan Maetsuycker
1678-1681 Rijckloff van Goens
1681-1684 Cornelis Speelman
1684-1691 Johannes Camphuys
1691-1704 Willem van Outhoorn
1704-1709 Joan van Hoorn
1709-1713 Abraham van Riebereck
1713-1718 Christoffel van Swol
1718-1725 Hendrick Zwaardecroon
1725-1729 Mattheus de Haan
1729-1731 Diederik Durven
1731-1735 Dirk van Cloon
1735-1737 Abraham Patras
1737-1741 Adriaan Valckenier
1741-1743 Johannes Thedens
1743-1750 Gustaaf Willem baron van Imhoff
1750-1761 Jacob Mossel
1761-1775 Petrus Albertus van der Parra
1775-1777 Jeremias van Riemsdijk
1777-1780 Reinier de Klerk
1780-1796 Willem Arnold Alting
1798- Pieter Gerardus van Overstraten

#7. Istilah Penting dalam VOC

  • Dewan Tujuh Belas (de Heeren XVII) : Parlemen yang memimpin VOC pertama kali, yang beranggotakan 17 orang dan berkedudukan di Amsterdam, Belanda.
  • Pelayaran hongi : Pelayaran dengan menggunakan kapal kora-kora yang dipersenjatai guna mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.
  • Devide at Impera : Suatu politik yang dilakukan VOC untuk mengadu domba kerajaan di Nusantara agar terpecah-belah sehingga mempermudah memonopoli perdagangan.
  • Gubernur Jenderal : Jabatan tertinggi yang mengurus dan mengendalikan kekuasaan jajahan VOC.
  • Dewan Hindia (Raad van Indie): Jabatan yang berperan sebagai penasehat Gubernur Jenderal dan mengawasi kepemimpinannya.
  • Dividen : Pembayaran keuntungan oleh pemilik saham.
  • Gulden : Mata uang Belanda saat itu.
  • Hak Octroi : Hak istimewa yang dimiliki VOC dan bersifat mutlak untuk diakui dan dilaksanakan layaknya bertindak sebagai suatu negara di dalam negara.
Artikel sejarah lainnya :

Demikianlah artikel tentang pengertian VOC dan sistem birokrasi politiknya serta gubernur yang menjabat, semoga bermanfaat.

Salam Pelajar Indonesia !


Ayo budayakan komentar setelah membaca artikel ! (Jangan SPAM ya)

 
Back To Top