Siswa Master

Berbagi Mata Pelajaran Sekolah, Tips Belajar dan Info Menarik Lainnya | Lengkap dan Terpercaya

26 Maret 2016

Pengertian, Struktur dan Ciri Kebahasaan Teks Ulasan Drama/Film

Pengertian, Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Ulasan Drama/Film – Apa itu Teks ulasan ? Teks ulasan adalah teks yang berisi tentang penilaian untuk mengetahui kualitas, kelebihan dan kekurangan sebuah karya. 

Pengertian, Struktur dan Ciri Kebahasaan Teks Ulasan Drama/Film

Teks ulasan tujuan utamanya tentu untuk memberikan penilaian/kritik/saran/komentar terhadap karya dengan memberikan deskripsi dan pendapat mengenai karya tersebut.

Teks ulasan ada beberapa bentuk, misalnya untuk membahas ulang karya buku/novel, buku sastra atau pementasan drama/film. Untuk teks ulasan karya tulis, kita sering menyebutnya dengan istilah ‘Resensi’ sedangkan yang akan kita bahas kali ini adalah Teks Ulasan Drama/Film.

Apa sih teks ulasan drama/film itu ? Yuk simak pembahasannya.....
 

A. PENGERTIAN TEKS ULASAN DRAMA/FILM

 
Sehubungan dengan itu, teks ulasan drama/film berarti teks yang berisi  tinjauan/kritikan terhadap kekurangan/kelebihan, kebermanfaatan (segi positif) atau ketidakbermanfaatan (segi negatif) terhadap suatu pementasan drama/film.
Kritikan tersebut bergantung penginderaan (cara melihat dan mendengarkan) dari penulis ulasan pementasan drama/film yang memunculkan 4 macam corak kritikan, yakni :
  • Corak kritik apresiasi
  • Corak kritik eksposisi
  • Corak kritik evaluasi
  • Corak kritik prevalensi
Untuk lebih mudah memahami, ada beberapa ciri dari teks ulasan. Adapun ciri-ciri teks ulasan secara umum yaitu :
  • Memuat informasi berdasarkan pandangan/opini penulis terhadap suatu karya.
  • Pendapat tersebut berdasarkan fakta yang diinterpretasikan dari karya tersebut.
  • Untuk teks ulasan buku/novel/karya tulis lainnya sering juga disebut dengan resensi

B. STRUKTUR TEKS ULASAN DRAMA/FILM


Struktur Teks Ulasan Drama/Film

1. Pendahuluan (Orientasi)

Bagian teks ulasan yang menyatakan gambaran umum atau khusus mengenai karya seni drama/film yang hendak di ulas kembali. Adapun bagian ini meliputi :

a.) Objek ulasan

Meliputi : judul drama/film, penulis drama/film, sutradara, para pelaku dan pemeran, film hasil adaptasi dari novel/cerpen dengan judul dan karya siapa.

Contoh :
  • ‘Mestakung’ merupakan akronim dari ‘Semesta Mendukung’ sebuah film yang disutradarai oleh John De Rantau, produksi Mizan Productions & Falcon Pictures. Film ini diangkat dari novel non fiksi tentang seorang Profesor Yohanes Surya, Ph.D., 
b.) Hal yang menarik untuk diulas (menonjol)

Meliputi : dialog, pemeran, alur, tata panggung, tata musik, tata lampu, kepiawaian pemeran dalam adegan, kegunaannya, ciri khas produksinya, dan lain-lain.

c.) Pemutaran atau pementasan drama/film

Meliputi : tempat dan tanggal pementasan drama/film, kapan dirilisnya, siapa sutradaranya, para pemain, penulis skenario, koreografer, dan sebagainya.

2. Tafsiran Isi (Interpretasi)

Bagian tafsiran umumnya berisi pandangan penulis tentang karya tersebut, meliputi :

a.) Unsur dari karya drama/film.

Misalnya : kekuatan/kelemahan alur, sinopsis cerita, kepiawaian pemeran, serius-tidaknya pementasan, keserasian musik pengiring, kelancaran dialog pemeran, ketelitian pendeskripsian setting ke dalam layar, dan hal lain sesuai dengan kriteria pementasan drama/film.

b.) Nilai-nilai yang akan disampaikan kepada penonton.

Misalnya : nilai pendidikan, nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai kebudayaan, nilai kejujuran, dan sebagainya.

Contoh :
  • Dalam film “Sang Pemimpi” sikap moral yang disarankan kepada penonton adalah kerja keras dan pantang menyerah untuk mencapai suatu impian.
c.) Perbandingan dengan karya drama/film yang mirip atau dengan sesuatu yang suasana/kesannya mirip.

Contoh : 
  • “Suasana penantian, mungkin masih mengacu pada “modernisme” Beccket. Taruhlah senada dengan penantian dalam Waiting for Godot (Menunggu Godot)”.
3. Evaluasi

Bagian evaluasi berisi penilaian pribadi penulis mengenai penampilan, dan produksi karya seni drama/film yang diulas, meliputi :

a.) Kekuatan dan kelemahan dari pementasan drama atau produksi film.

Contoh :
  • “Satu hal yang paling menonjol dari film ini adalah soundtracknya yang mampu membangkitkan suasana percintaan antara pemeran utama pria dan wanita”
b.) Rekomendasi untuk menggelitik keinginan/kemauan penonton ikut menonton pementasan drama/film yang diulas.
  • “Kelucuan film ini benar-benar terasa, para pemeran sangat piawai dalam mempengaruhi penonton untuk tertawa”.
  • “Akting yang gemilang dipadu dengan naskah yang memikat, soundtrack yang enak didengar, sinematografi yang indah, dan penyutradaraan yang tepat adalah alasan kenapa film ini harus masuk ke dalam list film yang wajib kalian tonton”.
 4. Kesimpulan/Rangkuman

Bagian yang berisi kesimpulan tentang keadaan/kondisi suatu karya drama/film yang diulas. Bagian kesimpulan juga dapat berisi komentar apakah karya tersebut bernilai/berharga/berguna/layak atau tidak bagi pembaca/penonton.

Contoh :
  • “Berharap film ini dapat menjadi tontonan inspiratif bagi anak-anak Indonesia yang akan memulai sebuah kerajaan bisnis”. 
  • “Berharap film ini mampu menggugah minat pemuda untuk tetap belajar dalam keadaan apapun”.

C. CIRI KEBAHASAAN TEKS ULASAN DRAMA/FILM


1. Teks ulasan drama/film berisi penonjolan terhadap unsur-unsur karya seni yang hendak diulas.

Dapat berupa dialog dalam cerita, hal yang menarik penulis, sesuatu yang khas pada objek ulasan, dapat juga dengan membandingkan karya drama/film yang sejenis.

Pada teks ulasan drama/film ini, muncul kata adjektiva (kata sifat) seperti : menarik/tidak menarik, mengharukan, memilukan, bernilai, memuaskan, baik/kurang baik, mencekam, menakutkan, dan lain sebagainya. Hal ini tentu untuk mendeskripsikan objek yang diulas.

Kata sifat atau kata keadaan adalah kata yang menerangkan tentang keadaan, sifat, watak, tabiat suatu benda. Kata sifat memberikan jawaban atas pertanyaan bagaimana atua dalam keadaan apa. Adjektiva juga mampu diperluas lagi dengan amat..., ....sekali, sangat.....

2. Menggunakan kata-kata opini atau persuasif

Contohnya : inilah drama/film Indonesia yang patut untuk ditonton, drama/film ini sungguh menarik untuk ditonton, drama/film ini benar-benar menghibur, drama/film yang ditampilkan mengandung nilai moral yang perlu kita teladani, dan lain-lain.

3. Menggunakan konjungsi internal dan konjungsi eksternal

a.) Konjungsi internal (intrakalimat), konjungsi yang menghubungkan dua argumen/gagasan/ide dalam kalimat simpleks atau dua kelompok klausa. 

Terdapat 4 (empat) kategori makna hubungan :
  • Penambahan/kesejajaran, yaitu konjungsi dan, atau, serta;
  • Menyatakan waktu, yaitu sejak, setelah, sesudah, ketika, saat;
  • Menyatakan perbandingan, yaitu tetapi, melainkan, sedangkan, tidak hanya, tetapi juga, bukan saja/hanya..., melainkan juga...;
  • Menyatakan sebab-akibat, yaitu sebab, akibat, sehingga, jika, karena, apabila, bilamana, jikalau.
b.) Konjungsi eksternal (antarkalimat), konjungsi yang menghubungkan dua peristiwa/deskripsi hal/benda dalam kalimat kompleks atau 2 kalimat simpleks.

Sama halnya dengan intrakalimat, konjungsi ini juga dibedakan atas 4 kategori makna hubungan :
  • Penambahan/kesejajaran, yaitu konjungsi lebih lanjut, di samping itu, selain itu;
  • Menyatakan waktu/temporal, yaitu pertama, kedua, ketiga, mula-mula, lalu, kemudian, berikutnya, selanjutnya, akhirnya ;
  • Menyatakan perbandingan, yaitu sebaliknya, akan tetapi, sementara itu, di sisi lain, namun, namun demikian, walaupun demikian/begitu, dan sebagainya ;
  • Menyatakan sebab-akibat, yaitu oleh karena itu, akibatnya, hasilnya, jadi, sebagai akibat, maka.
4. Menggunakan ungkapan perbandingan (persamaan/perbedaan)

Contohnya : daripada, sebagaimana, demikian halnya, berbeda dengan, seperti, seperti halnya, serupa dengan, dan sebagainya.

5. Menggunakan kata kerja material dan kata kerja relasional

Kata kerja material, yaitu kata kerja yang menyatakan kegiatan fisik/proses. Misalnya : makan, minum, membawa, berbicara, melamun, bertepuk tangan, mendengarkan, menunggu, melebur, memukul, bertanya, dan lainnya.

Kata kerja relasional adalah kata kerja yang berfungsi untuk membentuk predikat nominal (kata-kata kopulatif) dan dapat juga membantu memperjelas predikat (kata kerja bantu).
  • Contoh kata kerja relasional sebagai kopulatif : bernama, disebut, jadi/menjadi, meruapakan, adalah, ialah, yaitu, yakni, dan sebagainya.
  • Contoh kata kerja relasional sebagai kata bantu : pasti, harus/perlu/wajib, jadi, mungkin, boleh, harap, bisa, hendak/ingin/mau/akan, dapat/bisa, ada, dan sebagainya.
Materi BI lainnya :
Mengulas suatu karya tentu mengharuskan kita untuk berpikir lebih kritis. Dengan kritik, saran dan opini kita mengenai drama/film, itu berarti kita sudah berkontribusi guna kemajuan drama/film tersebut.

Tertarik untuk mencoba membuat teks ulasan drama/film ? Coba yuk...

2 komentar

Sebagai seorang ibu, mama tentu bangga pada mu
Best regards

haha oke mamah :D
makasih dah berkunjung

Ayo budayakan komentar setelah membaca artikel ! (Jangan SPAM ya)

 
Back To Top